-->

Mengenal Iklan Elektronik, Kelas 5, Tema 9, Subtema 3, Pembelajaran 4

Sore hari, Edo sedang duduk santai bersama ayah dan ibunya. Mereka duduk sambil menonton siaran televisi swasta yang sedang menyampaikan berita. Pada saat-saat tertentu acara di televisi ada jeda iklan. Setelah iklan selesai, acara di televisi kembali dilanjutkan. Ada beberapa jenis iklan konvensional yang dianut di stasiun televisi di Indonesia, diantaranya yaitu;
1. TVC  (Television Commercial)
Tayangan iklan ini berdurasi antara 30, 60 atau 90 detik yang berisi promo produk,  biasanya berbentuk audio video dan grafis.  TVC ini paling umum digunakan dalam mengisi jeda komersial program acara di TV.
2. Superimpose
Posisi iklan jenis superimpose ini biasanya terletak di pojok layar baik kanan ataupun kiri layar dengan durasi 15-30 detik. Bisa juga muncul di sisi atas maupun bawah,  tergantung logo dari stasiun TV.  Iklan superimpose ini biasanya berformat still picture/gambar diam,  bisa juga animated picture/animasi namun tanpa suara.
3. Built-in
Iklan ini sering disebut iklan terselubung,  karena hanya yang bermata jelilah yang mampu menangkap pesan ini.  Biasanya iklan jenis built-in ini menyatu dalam sebuah tayangan,  dan berbentuk tulisan yang ada di backdrop, xbanner,  logo produk dalam body program.
4. Ad-Lip
Iklan berbentuk ucapan yang dibacakan oleh pembawa acara.
5. Bump In-Out
Tayangan iklan sponsor yang berbentuk animasi, berdurasi maksimal 10 second,  ditayangkan pada awal acara dan akhir acara sebuah program TV.

Ayo Mengamati!
Ketika Edo sedang asyik menonton berita bersama ayah dan ibunya, tiba-tiba diselingi iklan. Salah satu iklan yang muncul, terlihat dalam cuplikan gambar berikut. Amatilah iklan yang dilihat Edo.
Setelah mencermati iklan tersebut, lakukan kegiatan berikut.
1. Informasi apa saja yang kamu peroleh?
Iklan tersebut berisi tentang penawaran sebuah produk anti septic. Anti septik berfungsi untuk melindungi tubuh dari kuman. Anti septik tersebut dapat digunakan untuk mandi dan membersihkan luka.

Ayo Membaca!
Iklan elektronik adalah iklan yang menggunakan media berbasis perangkat elektronik. Secara spesifik, iklan elektronik dapat berupa:

1. Iklan Radio
Iklan radio memiliki karakteristik hanya dapat didengarkan melalui audio (suara) saja. Suara tersebut dapat berupa suara/kata-kata manusia yang teratur, musik, dan sound effect (suara-suara yang tidak beraturan maupun efek suara alam.

2. Iklan Televisi
Iklan televisi memiliki karakteristik mengandung suara, gambar, dan gerak. Oleh karena itu, pesan yang disampaikan sangat menarik perhatian dan impresif.

3. Iklan Media Digital Interaktif (Internet)
Iklan Media Digital Interaktif (internet) adalah iklan yang memanfaatkan media internet untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Iklan ini disampaikan dalam bentuk website, blog, maupun youtube. Iklan ini dapat berupa video maupun banner animasi.

Ayo Membaca!
Persatuan dan kesatuan dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa, harus tetap dijaga oleh semua warga masyarakat. Agar persatuan dan kesatuan tetap terjaga, semua warga masyarakat harus selalu mengembangkan sikap toleransi, rasa persatuan dan kesatuan, dan kekeluargaan. Tidak hanya warga masyarakat, pemimpin-pemimpin bangsa pun selalu berupaya untuk membina persatuan dan kesatuan hidup bermasyarakat dan berbangsa.

Usaha-usaha yang dilakukan pemimpin bangsa dalam membina persatuan dan kesatuan bermasyarakat dan berbangsa antara lain:

  1. mengadakan festival budaya,
  2. mewajibkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di setiap acara resmi di mana pun berada,
  3. menjalankan pemerintahan secara adil dan terbuka,
  4. mengadakan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
  5. menciptakan kebebasan masyarakat untuk memeluk agama dan melakukan ibadah sesuai agamanya masing-masing,
  6. membina sikap saling menghormati dan menghargai antarpemeluk agama,
  7. mengadakan peringatan hari-hari besar nasional dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Setiap warga masyarakat harus selalu menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan agar tercipta kerukunan hidup. Jika anggota masyarakat tidak memiliki rasa persatuan dan kesatuan, maka ia akan berbuat semaunya dan pada akhirnya menimbulkan permasalahan.

Beberapa contoh perilaku yang tidak menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan sehingga mengakibatkan tidak rukun, antara lain:

  1. peserta didik bersikap sombong dan memilih-milih teman di sekolah,
  2. pertengkaran antarwarga,
  3. tawuran antarpelajar atau warga,
  4. merendahkan atau mengejek agama lain sehingga terjadi perselisihan,
  5. konflik antarsuku, dan lain-lain.

Perilaku-perilaku di atas, harus dihindari dan diupayakan tidak terjadi dengan cara memperbesar rasa teloransi.

Ayo Bermain Peran!
Kamu dapat belajar tentang pentingnya menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan dengan bermain peran. Bentuklah kelompok terdiri atas enam anak. Keenam anak itu nantinya berperan sebagai Siti, Lani, Udin, Beni, Dayu, dan Pak Guru. Pelajari naskah untuk bermain peran berikut. Berlatihlah sampai kelompok kalian menguasai dan bermain peranlah di depan kelas.

Kesombongan Membawa Petaka
Sekolah sedang mengadakan kegiatan jelajah alam yang diikuti oleh peserta didik kelas 5 dan 6. Mereka terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam kegiatan jelajah alam tersebut, tim yang paling giat dan bisa menyelesaikan tugas dengan baik, akan mendapatkan penghargaan.

Siti, Leni, Udin, Beni, dan Dayu berada pada satu kelompok. Beni adalah anak yang pintar, namun kurang bisa bekerja sama dengan temannya karena sikapnya yang sombong. Dayu sebagai pemimpin regu merasa kesulitan mengatur anggota regunya. Acara jelajah alam pun dimulai, mereka segera memasuki hutan untuk mencari jejak.

”Kalau cuma begini sih kecil, aku tahu betul kondisi hutan ini. Pasti kelompok kita yang menang nantinya,” kata Beni dengan sombong.
“Kita tidak boleh sombong Beni, yang terpenting kita harus selalu bersama dan tidak boleh terpisah,” kata Dayu.
Tiba-tiba Lani berkata, ”Lihat... ada persimpangan di depan. Kita harus memilih jalan yang mana ya?”
“Sepertinya ada sandi yang harus kita pecahkan, untuk bisa tahu jalan mana yang harus kita pilih,” kata Siti.
“Biar aku saja yang mengerjakan sandi itu, kalian tunggu di sini saja,” kata Beni.
“Kita kerjakan bersama-sama saja, kan kita satu kelompok,” kata Dayu.
“Nanti malah kelamaan. Sudah, biar aku saja yang mengerjakan. Kalau cuma sandi begituan, sih, gampang. Kalian nurut saja, biar kelompok kita sampai paling cepat dan dapat juara,” kata Beni.
“Tidak bisa begitu.. kita kerjakan bersama saja,” kata Udin.
Kemudian, mereka berdiskusi memecahkan sandi untuk menentukan arah yang harus mereka pilih. Diskusi berjalan alot karena ada perbedaan antara Beni dan teman-temannya.
“Menurutku, sandi itu mengatakan bahwa kita harus mengambil jalan ke kanan. Tapi, biar kita sampai di pos paling cepat, kita cari jalan pintas saja. Kita berjalan ke kiri memotong arah. Aku tahu hutan ini, karena aku pernah ke sini berkali-kali,” ujar Beni mantap.
“ Tidak, kita harus berjalan sesuai petunjuk arah,” kata Udin.
“Sekarang aku tanya, di sini yang paling pintar siapa? aku kan! Aku juara kelas, kalian semua memiliki peringkat di bawahku. Itu berarti kalian harus menuruti kata-kataku. Aku yakin keputusanku yang paling benar,” kata Beni dengan sombong.
Mereka terus berdebat. Dayu, Lani, Udin dan Siti sependapat, sedangkan Beni tidak sependapat sendiri.
“Sudah..., sekarang kita ikut suara terbanyak saja. Aku, Lani, dan Siti setuju dengan pendapat Udin. Berarti kita jalan ke kanan,” kata Dayu.
“Tidak. Silakan saja kalian berjalan sendiri, pasti nanti kalian yang akan tersesat karena jalannya memutar kalau menuju pos. Biar aku sendiri berjalan ke kiri,” kata Beni.
“Jangan Beni. Kita kan harus selalu bersama. Jangan pergi sendiri,
nanti kalau kamu yang tersesat bagaimana? Pokoknya, kita harus tetap bersatu,” ujar Lani.
“Kalau begitu, kalian harus menuruti kata-kataku. Kita berjalan ke kiri,” kata Beni.
“Tapi kompasnya membidik 60 derajat ke arah utara, sesuai kata-kata pada sandi itu. Berarti, kita harus mengambil arah kanan,” kata Siti sambil membidik kompas di tangannya.
“Apa pun alasannya, aku akan berjalan ke kiri. Itu keputusanku, karena aku lebih tahu daerah ini. Kalau kalian tidak mau ikut denganku, ya sudah. Selamat jalan, aku pergi sendiri. Biar nanti aku sampai lebih dulu di tempat tujuan,” kata Beni sambil berlalu meninggalkan kelompoknya.
Siti, Lani, Udin, dan Dayu tercengang dengan sikap Beni. Mereka
berusaha mencegah Beni. Namun terlambat, Beni sudah berlari dengan cepat.
Dengan sangat terpaksa, mereka melanjutkan perjalanan tanpa Beni. Sesampainya di pos, ternyata kelompok mereka nomor dua. Ada satu kelompok yang telah sampai lebih dulu di pos itu. Mereka kemudian teringat dengan Beni, Beni tidak ada di sana. Hingga semua kelompok berkumpul di pos tersebut, Beni tidak juga muncul.
Mereka kemudian merasa ketakutan, khawatir jika Beni tersesat di dalam hutan. Dayu melapor pada Pak Guru. Tak lama kemudian, Pak
Guru meminta Lani, Siti, Udin, dan Dayu untuk ikut bersama tim mencari keberadaan Beni.
Sementara di tengah hutan, Beni bingung. Ia tiba-tiba lupa dengan jalan yang harus ia tempuh.
“Kenapa sepertinya aku hanya berputar-putar saja? Dari tadi sepertinya jalan yang aku lewati sama. Aku tersesat.... Coba tadi aku nurut sama mereka. Tapi kan gengsi, masak aku paling pintar harus nurut sama mereka yang kepintarannya di bawahku?” kata Beni.
Beni menyesal. Ternyata ia telah bersikap sombong. Kesombongan yang akhirnya justru mencelakakan dirinya sendiri.
Setelah beberapa lama, akhirnya Beni dapat ditemukan. Hari sudah petang. Mereka kemudian bersama-sama menuju pos.
“Teman-teman, aku minta maaf ya…. Karena kesombonganku, kalian jadi repot harus mencariku,” kata Beni kepada teman-temannya dengan menyesal.
“Tidak apa-apa. Lain kali, kita harus kompak dan bersatu. Kamu memang pintar, Beni, tapi kesombonganmu harus dihilangkan,” kata Udin.

Ayo Berlatih!
Setelah kalian membaca cerita “Kesombongan Membawa Bencana”, sikap seperti Beni sudah selayaknya tidak kita tiru. Sikap sombong seperti yang dilakukan oleh Beni dapat menjadi penyebab pecahnya persatuan dan kesatuan. Para pemimpin bangsa kita terdahulu pun sangat menjaga agar rasa persatuan dan kesatuan tidak terpecah.

Sekarang, coba kalian sebutkan usaha-usaha yang dilakukan pemimpin bangsa dalam membina persatuan dan kesatuan sehingga tercipta kerukunan hidup bermasyarakat dan berbangsa. Tulislah ceritamu pada buku tugas, lalu kumpulkan kepada Bapak/Ibu Guru untuk dinilai. Usaha-usaha yang dilakukan pemimpin bangsa dalam membina kerukunan hidup bermasyarakat dan berbangsa antara lain:

  1. Mengadakan festival budaya.
  2. Mewajibkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di setiap acara resmi dimanapun berada.
  3. Menjalankan pemerintahan secara adil dan terbuka.
  4. Mengadakan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  5. Menciptakan kebebasan masyarakat untuk memeluk agama dan melakukan ibadah sesuai agamanya masing-masing.
  6. Membina sikap saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama.
  7. Mengadakan peringatan hari-hari besar nasional dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Edo selesai belajar. Tiba-tiba terdengar suara ibu memanggilnya. Edo disuruh ibu untuk membeli telur ayam di tetangga sebelah. Kebetulan tetangga sebelah beternak ayam petelur. Ibu sedang sibuk membuat roti untuk dijual besok pagi. Saat ke luar rumah Edo bertemu tetangganya yang baru pulang dari berjualan di pasar. Edo sejenak merenung. Edo tinggal di lingkungan pinggiran kota. Edo sadar, ternyata ada beragam pekerjaan yang dijalani oleh masyarakat di lingkungan sekitar rumahnya. Mulai dari peternak ayam, pedagang roti seperti ibunya, pengrajin, guru, dan karyawan swasta seperti ayahnya.
Ayo Membaca!
Tahukah kamu Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam?. Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang memiliki budaya masing-masing. Keanekaragaman budaya juga merupakan suatu kekayaan yang unik dan tidak dimiliki oleh negara lain. Kekayaan alam yang melimpah dan budaya yang beraneka ragam, memengaruhi mata pencaharian masyarakat Indonesia. Beragamnya budaya membuat mata pencaharian masyarakat Indonesia juga beraneka ragam.

Kita harus selalu menghargai keanekaragaman mata pencaharian masyarakat di lingkungan sekitar dan di Indonesia pada umumnya. Caranya, antara lain sebagai berikut.

1. Tidak mencela dan merendahkan mata pencaharian orang lain.
Mata pencaharian masyarakat di Indonesia sangat beragam, mulai dari pedagang asongan, pengamen, pegawai, karyawan swasta, hingga pengusaha. Apa pun pekerjaan orang lain, kita tidak boleh merendahkan. Misalnya, kamu mendapati seorang pengamen yang mencari uang dengan berjalan dari rumah ke rumah sambil bernyanyi. Kamu harus tetap menghormatinya, tidak boleh mencela bahkan merendahkan.

2. Menghormati orang yang sedang bekerja.
Kamu harus menghormati orang yang sedang bekerja, tidak peduli pekerjaan itu bagus atau tidak menurut kamu. Misalnya, kamu sedang memasuki gerbang sekolah, kebetulan ada tukang kebun yang sedang membersihkan halaman. Sebaiknya kamu menyapa atau setidaknya menganggukkan kepala.

3. Menghargai pekerjaan orang lain.
Apa pun pekerjaan orang lain harus tetap dihargai. Jangan pernah membeda-bedakan orang hanya berdasarkan pekerjaan saja. Sebagai peserta didik, kamu harus menghargai pekerjaan siapa pun. Misalnya, dengan ibu penjaga kantin sekolah, pedagang kaki lima, pemulung, dan lain sebagainya.

4. Membiasakan membeli produk-produk lokal.
Sebagai contoh, tetanggamu memiliki usaha produksi sandal dan tas. Jika kamu ingin membeli tas dan sandal, sebaiknya belilah produk dari tetanggamu. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk menghargai mata pencaharian masyarakat.

5. Membiasakan mengonsumsi makanan dan buah-buahan dalam negeri.
Mengonsumsi makanan dan buah-buahan dalam negeri dapat mengangkat hasil pertanian masyarakat, sehingga secara tidak langsung dapat membantu menyejahterakan petani Indonesia.
LihatTutupKomentar